Lokasi: Beranda > Hiburan > Google Cloud Fokus Bantu Perusahaan Raih ROI dari Implementasi AI

Google Cloud Fokus Bantu Perusahaan Raih ROI dari Implementasi AI

Waktu: 2026-07-29 17:30:01Sumber: Pebble NotebookKategori: Hiburan

JAKARTA, KOMPAS.com – Google Cloud mendorong perusahaan-perusahaan di Indonesia mempercepat adopsi artificial intelligence (AI) dari sekadar tahap uji coba menuju implementasi berskala besar.

Langkah tersebut dilakukan melalui penguatan solusi agentic AI, perluasan dukungan teknis, hingga penyediaan platform yang diklaim mampu membantu perusahaan mengelola implementasi AI secara lebih aman, efisien, dan terukur.

Country Director Google Cloud Indonesia Karim Siregar mengatakan dunia usaha kini memasuki fase baru transformasi digital, yakni pergeseran dari strategi cloud first menjadi AI ready.

Pada tahap ini, perusahaan dituntut tidak hanya mengadopsi AI, tetapi juga mampu mengintegrasikannya ke dalam proses bisnis untuk menghasilkan nilai ekonomi yang nyata.

"Di era agentic AI, salah satu tolok ukur kemampuan rekayasa teknologi adalah menghadirkan solusi yang mampu bekerja dalam skala Indonesia,” kata Karim Siregar dalam ajang Indonesia Leaders' Connect 2026 di Jakarta, Rabu (15/7/2026).

Baca juga:

Karim menjelaskan, karakteristik pasar Indonesia yang memiliki jutaan pengguna mobile di berbagai wilayah menjadi tantangan tersendiri bagi implementasi AI.

“Dengan jutaan pengguna yang tersebar dari kota besar hingga daerah tier-2 dan tier-3, Google Cloud menghadirkan AI stack terpadu dan platform Gemini Enterprise untuk membantu perusahaan memodernisasi infrastruktur lama, mengelola biaya AI secara lebih terukur, serta menjalankan autonomous agents secara aman dari tahap eksperimen hingga produksi dengan ROI yang jelas," ujar Karim.

Menurut dia, tantangan perusahaan saat ini bukan lagi menentukan apakah AI perlu diadopsi, melainkan bagaimana mempercepat implementasinya secara aman sekaligus memberikan dampak nyata terhadap produktivitas, efisiensi operasional, dan pengalaman pelanggan.

Baca juga: Google Kalah Banding, Denda Antimonopoli Uni Eropa Rp83,6 Triliun Tetap Berlaku

Sejumlah perusahaan nasional disebut telah mulai memanfaatkan teknologi tersebut untuk meningkatkan kinerja bisnis. Di sektor media, Emtek Group mengembangkan platform produksi konten berbasis AI yang diklaim memangkas waktu dan biaya pengembangan serial televisi hingga 30 persen.

Sementara di sektor telekomunikasi, Indosat memanfaatkan AI untuk meningkatkan pengalaman pelanggan dan optimalisasi jaringan, yang diklaim berhasil menekan tingkat user churn hingga 50 persen serta meningkatkan average revenue per user (ARPU) lebih dari 6 persen.

Di industri perbankan, PT Bank CIMB Niaga Tbk mengembangkan enterprise AI agents yang mendukung penasihat keuangan dalam menyusun rekomendasi investasi berbasis kondisi pasar terkini, sekaligus membantu petugas layanan pelanggan memperoleh informasi produk secara real time saat melayani nasabah.

Karim menilai pemanfaatan AI seharusnya tidak berhenti pada eksperimen teknologi, tetapi diarahkan untuk menyelesaikan persoalan bisnis secara konkret.

"Peluangnya bukan lagi sekadar mencoba teknologi baru. Yang terpenting adalah bagaimana AI digunakan untuk menyelesaikan persoalan nyata di organisasi nyata dengan skala yang nyata,” ujar dia.

“Keberhasilan implementasi AI ditentukan oleh kemampuannya terintegrasi langsung ke dalam alur kerja dan menghasilkan dampak bisnis yang terukur," katanya.

Baca juga: Google Maps Rilis Address Descriptors, Alamat Berbasis Patokan Jadi Lebih Akurat

Selain memperkenalkan kapabilitas Gemini Enterprise, Google Cloud juga memperkuat aspek pengelolaan biaya implementasi AI melalui sistem tokenomics, sehingga perusahaan memiliki fleksibilitas memilih model AI sesuai kebutuhan sekaligus mengendalikan biaya operasional.

Di sisi lain, perusahaan teknologi tersebut memperluas tim Forward-Deployed Engineer (FDE) di Indonesia. Tim ini akan ditempatkan langsung di lingkungan pelanggan untuk membantu integrasi AI ke dalam proses bisnis, mempercepat implementasi ke tahap produksi, sekaligus meminimalkan risiko selama proses adopsi.

Menurut Karim, kehadiran tenaga ahli tersebut menjadi respons atas meningkatnya kebutuhan perusahaan akan pendampingan teknis dalam mengimplementasikan AI generatif di berbagai lini usaha, mulai dari layanan pelanggan, analisis data, hingga optimalisasi rantai pasok.

"Pemimpin bisnis di Indonesia kini tidak lagi mempertanyakan apakah mereka perlu mengadopsi AI generatif, melainkan seberapa cepat teknologi itu dapat diterapkan secara aman,” jelas karim.

“Dengan menempatkan talenta engineering kami langsung di organisasi pelanggan, kami ingin membantu menghilangkan hambatan implementasi sekaligus mempercepat lahirnya alur kerja berbasis agentic AI yang akan menjadi fondasi bisnis masa depan," tegas Karim.